Segala puji kita panjatkan kepada Alloh SWT. yang Maha Kaya, yang tidak membutuhkan apapun dan siapapun, yang hanya kepadaNyalah kita meminta dan mengadu.

Sudah menjadi fitrah manusia datangnya cobaan, banyaknya kebutuhan menghampiri menjadikan hidup tidak seimbang, selera makan berkurang, susah tidur, dan bahkan waktu satu jam pun bagai setahun.

Cobaan berbagai kebutuhan ibarat seekor binatang buas dan liar. Kalau saja kita tidak bisa memeliharanya dia akan menjadi semakin buas dan liar sehingga timbul masalah besar. Begitu pula dengan cobaan kalau saja kita tidak bisa menghadapinya maka cobaan tersebut akan menimbulkan berbagai kemadaratan yang fatal bahkan kekufuran ancamannya. Selaras dengan hadits Nabi Muhammad SAW. yang mengatakan :
"Hampir saja kefakiran menjadikan kekufuran".
Memang kefakiran terkadang melunturkan keimanan seseorang. Banyak sekali contoh yang terjadi seperti orang miskin hanya karena butuh makan ia rela menjual keimanannya dengan sejumlah sembako atau yang hanya menginginkan kesehatan ia rela pergi ke rumah sakit misionaris kafir walaupun sebelum pulang ia terlebih dahulu menanggalkan keimanannya.

Tapi kalau kita sadar bahwa jati diri kita adalah sesungguhnya makhluk yang diliputi kebutuhan dan kekurangan, dan kita tahu bahwa hanya Allohlah yang Maha Kaya, yang tiada membutuhkan apapun, lalu kita berdo'a dan mengadu kepadaNya, dengan demikian menunjukkan bahwa kita membutuhkan kasih sayang Alloh yang Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya yang akhirnya ibadah kita akan maksimal. Syaikh Ibnu 'Athoillah dalam kitab al-Hikamnya berkata :
"Terkadang bertambahnya kesempurnaan iman dapat kita temui dari timbulnya satu kebutuhan yang mana ini tidak ditemukan dalam ibadah puasa dan sholat".

Sehingga bagi para Muridin  (orang-orang yang hanya menghendaki keridloan Alloh) kebutuhan merupakan momen yang sangat indah untuk mendapatkan ridlo Alloh (kebahagiaan haqiqi). Ini juga berdasarkan komentar Syaikh Ibnu 'Athoillah dalam al-Hikamnya hal.75 :
"Datangnya kebutuhan merupakan i'ednya para Muridin".

Bahkan orang yang diangkat derajatnya oleh Alloh dikarenakan telah berhasil melewati cobaan yang menerpanya. Seperti halnya kisah Nabi Ibrahim AS. yang ingin mempunyai keturunan sehingga ia terus berdo'a dan meningkatkan keimanan dan ibadahnya kepada Alloh SWT. Sampai puluhan tahun yang akhirnya tatkala usia istrinya tidak muda lagi yaitu genap 80 tahun, Nabi Ibrohim baru dikaruniai seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi utusan Alloh dan diangkat derajatnya dengan tanda kenabian dengan gelar Kholilulloh (Kekasih Alloh).

Oleh karena itu, cobaan janganlah menjadikan kita putus harapan untuk bisa tersenyum, karena dalam setiap cobaan disana ada senyuman seperti halnya dongeng si Kabayan yang suka tersenyum kalau sedang mendaki gunung terjal dan tinggi karena dia tahu bahwa di hadapannya akan ada jalan yang menurun. Pepatah bilang "dimana ada kesulitan, disana ada jalan". Dalam Quran Surat al-Insyiroh ayat 5 Alloh berfirman :
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan".

Jadi walau saja Alloh SWT. menghadapkan kita terhadap berbagai macam kebutuhan maka bergembiralah karena dibalik kebutuhan kita akan sadar bahwa kita adalah makhluk lemah yang membutuhkan Dzat yang Maha Kaya dan Maha Gagah yaitu Alloh SWT. Sehingga kita dapat memaksimalkan ibadah dan akhirnya kebahagiaan akan kita raih.

Semoga kita sebagai ummat mukmin dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian, Amiin.


"Iman itu bertambah dengan banyak melakukan taat dan berkurang karena melakukan maksiat" (Tafsir al-Baidhowi, jilid 1 hal. 380).

Ulama berbeda pendapat mengenai iman, apakah iman itu bisa bertambah dan berkurang atau tidak.
Menurut sependapat bisa bertambah dan berkurang, menurut pendapat lain tidak bisa bertambah dan berkurang.

Ulama yang berpendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang berdasarkan kepada dalil-dalil berikut ini :
1. Dalil al-Quran, diantaranya surat al-Anfal ayat 2 :
 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh maka gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal".
Imam Bukhari dan imam lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa iman bisa bertambah dan saling mengungguli dalam hati.
2. Sebagian besar ulama mengidentikkan iman dengan taat, berdasarkan kepada hadits Rosululloh SAW :
"Iman itu mempunyai 77 pintu, pintu yang paling atas adalah ucapan "Laa Ilaaha Illalloh" dan yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan, dan malu itu merupakan cabang dari iman" dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. (Tafsir Khozin, Juz 1 hal. 8).
Dengan demikian menurut pendapat pertama, pengertian iman di sini bukan kepada pokok utama dari iman itu sendiri, melainkan kesempurnaan amal, sebab derajat bertambahnya keimanan seseorang diukur dengan banyaknya melakukan amal baik. Sebaliknya kurang iman karena kurangnya melakukan amal baik, bahkan melakukan maksiat. Naudzubillahimindzalik. Karena itu iman bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan orang tersebut.
Pendapat kedua yang menyatakan bahwa iman tidak bisa bertambah dan berkurang mempunyai alasan dalam beberapa kitab dijelaskan, Iman adalah :
"Membenarkan dalam hati kepada segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW". (Syarah Safinatunnaja hal.8)
Berarti kalau iman berkurang maka kedudukan tashdiq (membenarkan) berubah menjadi syak (ragu-ragu). Perubahan kedudukan ini menyebabkan seseorang menjadi kafir, karena tidak ada perantara antara iman dengan kafir.
Dari dua pendapat tersebut yang diunggulkan adalah pendapat yang pertama, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Jauharut Tauhid hal. 31 :
"Dan merupakan pendapat yang diunggulkan yaitu iman manusia bertambah dengan bertambahnya ketaatan kepada Alloh SWT".
Setiap Muslim diharuskan untuk senantiasa menjaga kesempurnaan iman yang tertancap di dalam hati dengan melakukan berbagai amal baik, sebab apabila iman terus dipupuk maka iman akan bersinar dan sinarnya memancar ke seluruh anggota tubuh pemiliknya, mata, tangan, kaki dan sebagainya.
Iman yang telah terpancar ke seluruh tubuh maka setiap anggota tubuh terasa berat untuk melakukan maksiat kepada Alloh SWT.
"Iman yang telah tertancap dalam hati seorang Mukmin, bagaikan sebatang pohon yang mempunyai beberapa tangkai".
Mudah-mudahan Alloh SWT. selamanya melimpahkan kekuatan kepada kita semua, untuk bisa meningkatkan keimanan dengan melakukan berbagai amal baik, amiin.

Miftahul Huda

{picture#https://scontent.fcgk9-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/22555265_10155045104696662_7683761940892936903_n.jpg?_nc_cat=102&_nc_eui2=AeF68pIuZ8SjsJQHpgPg4-NbdF-3IDs8XdgyZphLykWdGgvFmr9f8U0k_g0j7z9ZnpUxvBx_SG77cnerBYPY59WPiDc8TjKxlIkEMTfh_l6J4g&_nc_oc=AQkRsFmL6xMWGMc5K8AXSfkPWKatFR6FTo-nNIhFNlBe7YaZ2h0g_VK3oH3M2Jno9ZU&_nc_ht=scontent.fcgk9-1.fna&oh=749b8223d2672cfad3c3f0333c8fc986&oe=5DBC3EAE} Admin Pondok Pesantren Miftahul Huda {facebook#https://www.facebook.com/miftahul.huda.pusat/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCn0seHUcRDxGOXbUj1MqlQA} {instagram#https://www.instagram.com/miftahulhudapusat/}
Diberdayakan oleh Blogger.