Istiqomah

KH. Abdul Aziz Affandy


Sunda memang banyak cerita keluarga, Kabayan Iteung dan Abah misalnya, suatu hari Abah pergi ke sawah, sesampainya di sawah Abah kaget campur bahagia melihat menantunya Kabayan sudah lebih dulu ada di sawah, Abah pun menyapanya dengan pelan menanyakan "Kabayan keur naon?"

dia menjawab " keur nguseup Tutu Bah " Kabayan lagi mancing Siput sawah, abah heran Siput kan mustahil bisa dipancing, lalu penasaran Nanyang lagi "Kunaon di useupan?" jawabnya " Sieun atuda jero sawahna katingali langitna oge"  Kabayan berfikir dan merasakan sawah itu dalam sekali sehingga langit pun kelihatan sehingga Kabayan takut untuk turun ke tengah sawah, mendengar jawaban seperti itu Abah jengkel sekali di dorongnya sehingga Kabayan jatuh ke tengah sawah, kemudian dia ngomong "el da deet ketang" Kabayan kaget tapi senyum senyum ternyata sawah itu dangkal, kemudian Kabayan memungut siput siput itu.

Cerita sunda ini mengandung filosufi cukup mendasar bagi kita semua terutama dalam kehidupan sehari hari, semisal kita yang bukan hanya tau baik dan buruk bahkan ingin melakukan yang baik menanggalkan yang buruk, tapi kenapa kita tak pernah bisa melakukannya.

Kabayan tau Siput itu enak  kandungan gizinya tinggi, dia pun ingin mendapatkan siput siput itu untuk di makan tapi, Kabayan tidak bisa mendapatkannya karena dia ter halang oleh pikiran dan perasaannya, justru ketika di dorong mertua dipaksa untuk turun, ternyaman  sawah itu tidak seperti yang dalam pikiran dan perasaannya malahan dia dengan mudah mendapatkan siput siput itu karena tidak lagi di pancing.

Alloh menjamin " Haq itu dari Tuhan kamu, jangan lah kamu menjadi orang orang yang ragu " maka ketika kita melakukan Haq dan kebenaran janganlah ragu untuk melaksanakan, mengeluarkan sodaqoh jangan berpikir untung dan rugi, puasa jangan memikirkan haus dan lapar, sholat jangan mengulurulurkannya, intinya pertimbangan pikiran dan perasaan yang menunda nunda melaksanakan perintah Alloh jangan di ladeni.

Istiqomah-lah dalam melaksanakan perintah Alloh.