KH Choer Affandi

Rihlah keilmuan Kiai Choer Affandi terus berlanjut. Dia melangkahkan kaki ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk belajar ilmu faraid dan ilmu waris di Pesantren Gunung Puyuh.

Masih di daerah yang sama, sosok yang lahir dengan nama Onong Husen ini juga bermukim di Pesantren Tipar untuk mengkaji ilmu tafsir. Perjalanan dari pesantren ke pesantren ini dilakoninya hingga 1942. Di tahun yang sama, KH Choer Affandi mendirikan Pesantren Wanasuka di desa tempat kelahirannnya. Hal itu dilakukannya sambil terus belajar pada KH Abdul Hamid dan KH Didi Abdul Majid.

Adeng dalam artikelnya untuk Jurnal Patanjala (Maret, 2011) memaparkan secara detail sembilan pesantren yang pernah menjadi tempat Choer Affandi menuntut ilmu. Di Pesantren Cipancur, Tasikmalaya, enam bulan lamanya dia belajar pada KH Dimyati.

Di Pesantren Pangkalan, Ciamis, dia belajar ilmu tauhid pada KH Abdul Hamid, sosok Nahdlatul Ulama yang sangat anti-Belanda. Di Pesantren Cikalang, dia sempat belajar satu bulan lamanya sebelum diusir oleh seorang kiai karena diketahui sebagai anti-Belanda.

Di Pesantren Sukamanah, dia memantapkan jiwa jihad melawan penjajah serta mempelajari ilmu-ilmu agama kepada KH Zainal Mustafa. Di Pesantren Jembatan Lima, Jakarta, dua bulan lamanya dia belajar ilmu falak kepada KH Mansyur. Di Pesantren Tipar, Sukabumi, dia belajar ilmu mantiq tiga bulan lamanya.

Di Pesantren Gunungpuyuh, Sukabumi, dia belajar ilmu tafsir dan hadis kepada KH Ahmad Sanusi. Selanjutnya, ilmu tasawuf dipelajarinya dari H Didi Abdul Majid di Pesantren Wanasuka, Ciamis. Terakhir, ilmu makrifat dikajinya dari KH Sayuti di Pesantren Grenggeng, Kebumen.

Semangatnya untuk mencari ilmu memang tidak pernah padam. Selain itu, KH Choer Affandi juga piawai dalam melakukan klasifikasi atas ilmu-ilmu yang diperolehnya dari beragam ulama yang ditemuinya di pesantren-pesantren. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa dia membagi ilmu-ilmu itu ke dalam sejumlah bidang yang diistilahkannya fan.

Fan tauhid didapatkannya dari belajar di Pesantren Cipancar Cigugur Pangkalan, Langkap Lancar Ciamis atas asuhan KH Abdul Hamid.

Fan ilmu fiqih dari Pesantren Cikalang Tasikmalaya. Fan ilmu alat atau nahwu dan sharaf dikajinya dari kitab-kitab Ibtida dan Tsanawi di Sukamanah. Kepada KH Masluh di Legok Ringgit dan Ma'hadul 'Aly Paniis, KH Choer Affandi juga mempelajari nahwu dan sharaf.

Fan tafsir dan asmaul husna diperolehnya dari KH Ahmad Sanusi di Guyung Puyuh, Sukabumi. Fan ilmu falak dari KH Manshur di Pesantren Jembatan Lima, Jakarta.

Rupanya, KH Choer Affandi juga menguatkan semangat jihadnya melawan penjajah dengan mempelajari segi-segi fan ruh al-jihad Islam.

Hal itu dipelajarinya terutama dari KH Zainal Mustafa, pendiri Pesantren Sukamanah. Adapun fan ilmu waris dari KH Mahfudz di Babakan Tipar, Sukabumi. Sementara itu, fan ilmu Alquran dan tajwid dari para ustaz di Cigeureung, Tasikmalaya.

---
Sumber Release: https://khazanah.republika.co.id/berita/ppn2wv458/kh-choer-affandi-menuntut-ilmu-dari-pesantren-ke-pesantren

KH Choer Affandi

Cukup banyak ulama besar yang berasal dari masyarakat Sunda. Salah satunya adalah KH Choer Affandi, sang pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Tasikmalaya, Jawa Barat.

Tokoh ini lahir dengan nama Onong Husen. Dia lahir pada 12 September 1923 di Desa Cigugur, Ciamis. Dari garis silsilah ayahnya, Raden Mas Abdullah, sosok yang akrab disebut Uwa Ajengan ini termasuk kalangan bangsawan Mataram. Dia juga mewarisi darah ulama dari ibunya, Siti Aminah.

Sejak kecil, anak kedua dari tiga bersaudara ini cukup beruntung karena mendapatkan akses pendidikan Barat. Hal ini tidak mengherankan karena Raden Mas Abdullah merupakan seorang pegawai tinggi pada sistem kolonial Belanda. Akan tetapi, neneknya dari pihak ayah, Haesusi, ingin agar Onong Husen tidak terserap budaya Barat sehingga melupakan jati diri Muslim Sunda.

Oleh karena itu, Haesusi membujuk cucunya ini agar mau memeroleh pendidikan agama di pondok pesantren yang diasuh KH Abdul Hamid. Hal itu terjadi setelah Onong Husen lulus dari sekolah Belanda untuk bumiputera, HIS (Hollandsch-Inlandsche School) pada 1936. Demikian kesaksian, KH Abdul Fattah, putra pertama KH Choer Affandi, seperti dikutip situs resmi Pesantren Miftahul Huda.

Kemudian, Onong Husen melanjutkan studinya ke pesantren Sukamanah yang dipimpin KH Zainal Mustafa, sosok yang akhirnya dikenang sebagai pahlawan nasional. Dia mendapat bimbingan dari seorang santri senior, H Masluh. Pembimbingnya ini lantas mendirikan pesantren baru, Legok Ringgit, yang berjarak cukup dekat dari Sukamanah. Di sinilah Onong Husen mendaftarkan diri dengan nama barunya, Choer Affandi. Demikian keterangan KH Abdul Fattah yang diwawancarai Yat Rospia Brata untuk artikelnya pada Jurnal Artefak (Januari, 2013).

Choer Affandi dikenal luas sebagai santri yang takzim terhadap para guru. Sifatnya itu memudahkannya dalam menyerap ilmu-ilmu agama dan mendapatkan keberkahan. Perjalanannya menuntut ilmu dilanjutkan ke Pesantren Paniis yang diasuh KH Shobir di Desa Cigadog Leuwisari. Enam bulan lamanya dia belajar ilmu ushul fiqih di sana. Saat itu, Choer Affandi sudah mencapai usia 17 tahun.

Sesudah itu, dia kembali ke Legok Ringgit. Namun, selang beberapa waktu kemudian, Choer Affandi diperintahkan gurunya untuk pergi ke Pesantren Tunangan, Tasikmalaya, guna mendalami ilmu falak. Pesantren tersebut dipimpin KH Dimyati. Satu tahun kemudian, dia tamat belajar dari Tunangan. Selanjutnya, dia belajar pada KH Mansur di Pesantren Jembatan Lima, Jakarta, sampai akhir tahun 1941.
----
Sumber : Islam Digest Republika
Release: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/19/04/08/dunia-islam/islam-digest/19/04/08/ppn2qe458-kh-choer-affandi-ulama-tasikmalaya-yang-kharismatik

Miftahul Huda

{picture#https://scontent.fcgk9-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/22555265_10155045104696662_7683761940892936903_n.jpg?_nc_cat=102&_nc_eui2=AeF68pIuZ8SjsJQHpgPg4-NbdF-3IDs8XdgyZphLykWdGgvFmr9f8U0k_g0j7z9ZnpUxvBx_SG77cnerBYPY59WPiDc8TjKxlIkEMTfh_l6J4g&_nc_oc=AQkRsFmL6xMWGMc5K8AXSfkPWKatFR6FTo-nNIhFNlBe7YaZ2h0g_VK3oH3M2Jno9ZU&_nc_ht=scontent.fcgk9-1.fna&oh=749b8223d2672cfad3c3f0333c8fc986&oe=5DBC3EAE} Admin Pondok Pesantren Miftahul Huda {facebook#https://www.facebook.com/miftahul.huda.pusat/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCn0seHUcRDxGOXbUj1MqlQA} {instagram#https://www.instagram.com/miftahulhudapusat/}
Diberdayakan oleh Blogger.